Gpon VS Epon

Ada seorang pengusaha properti bernama Pak Rudi. Ia sedang bangun kompleks perumahan dan bingung memilih teknologi internet. Ia pun memanggil dua teknisi: Pak Budi (jagoan GPON) dan Pak Joko (jagoan EPON).


Sesi Pak Budi (GPON):

Pak Budi datang dengan santai, hanya membawa satu laptop. Ia masuk ke sistem pusat (OLT), mengetik nomor seri ONU pelanggan, lalu berkata ke Pak Rudi:
“Pak, nanti di rumah-rumah, tinggal colok kabel fiber ke ONU-nya. Jangan diutak-atik. Semua pengaturan VLAN, bandwidth, sampai IP, saya dorong dari sini. ONU-nya cukup diam dan nurut.”

Sore itu, 50 rumah langsung nyala internet tanpa satu pun teknisi turun ke rumah warga. Pak Budi pulang lebih cepat sambil minum kopi.


Sesi Pak Joko (EPON):

Giliran Pak Joko datang. Ia memasang OLT di sentral, lalu membawa tas berisi laptop dan puluhan kabel console. Ia menatap Pak Rudi dengan wajah lelah:
“Pak, saya harus ke tiap rumah. Saya set VLAN di OLT. Lalu saya harus login satu per satu ke ONU warga, set VLAN yang sama persis. Kalau tidak, sinyal masuk tapi internet tidak nyambung.”

Hari itu, Pak Joko berkeliling kompleks dari rumah ke rumah. Di rumah nomor 7, ia lupa VLAN yang ia set di OLT tadi, harus telepon balik ke kantor. Di rumah nomor 12, ia salah ketik angka, koneksi putus, dan ia harus reset ulang. Sampai malam, baru 10 rumah selesai. Keringatnya bercucuran, sedangkan Pak Budi sudah tidur nyenyak.


Amanat:
Pak Rudi akhirnya memilih GPON. Ia bilang ke Pak Joko:
“Maaf Pak Joko, kalau EPON ibarat dua orang yang harus janjian dulu—saya set di kiri, Anda set di kanan, kalau salah satu lupa, kita tidak ketemu. Kalau GPON itu seperti komandan tentara: satu perintah dari pusat, semua prajurit ONU langsung gerak tanpa protes.”

Pak Joko mengangguk pasrah. Sejak hari itu, ia hanya dipanggil kalau ada yang mau pasang internet di kantor kecil, yang teknisi senang otak-atik perangkat. Sedangkan untuk perumahan besar, Pak Rudi selalu telpon Pak Budi—karena satu sisi, lebih ringkas. 😄

  1. GPON (Pakai OMCI – Setting Otomatis dari Satu Sisi)
    GPON punya protokol manajemen bernama OMCI (ONT Management Control Interface). Begini alurnya:

Teknisi hanya melakukan registrasi ONU (via Serial Number atau Password) di sistem OLT (sisi sentral).

Setelah teregistrasi, OLT akan “menyuntikkan” (push) semua konfigurasi ke ONU pelanggan secara otomatis. Mulai dari VLAN ID, profile bandwidth, sampai pengaturan suara (VoIP).

ONU di rumah pelanggan bersifat “dumb” (bodoh) dan menerima perintah dari OLT. Jadi teknisi di lapangan cukup colok kabel serat optik, ONU akan otomatis menyesuaikan diri tanpa perlu setting manual IP/VLAN di perangkat ONU.

  1. EPON (Pakai OAM & MPCP – Sering Perlu Setting Dua Sisi)
    EPON menggunakan protokol OAM yang jauh lebih sederhana dan tidak terpusat seperti OMCI. Akibatnya:

EPON hanya punya mekanisme autodiscovery fisik (OLT tahu ONU sudah colok), tapi tidak secara otomatis mengatur konfigurasi logis (seperti VLAN, IP gateway, atau mode Bridge/Router).

Setting VLAN dan parameter seringkali harus dilakukan secara manual di kedua sisi: teknisi harus set VLAN ID di OLT, dan harus set juga VLAN ID yang sama di menu admin ONU pelanggan. Jika tidak sama, ONU tidak akan bisa internet.

Makanya, untuk proyek perkantoran atau kampus (yang sering pakai EPON), teknisi perlu membawa laptop dan login ke setiap ONU untuk konfigurasi manual.

Fakta Terkini di Pasar:
Dulu selisih harga GPON dan EPON sangat jauh. Tapi sekarang, karena GPON sudah menjadi standar global (terutama di China dan Eropa) dan diproduksi dalam skala raksasa, harga chipset-nya sudah turun drastis. Bahkan di beberapa vendor, harga OLT port GPON dan EPON hampir sama untuk kecepatan 1G.

You have been successfully Subscribed! Ops! Something went wrong, please try again.

Company

Testimony

Contact Us

Copyright © 2026 |  TJLINK

Butuh Bantuan?